Senin, 2 November 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Arena Sport TemaArena Sport Tema
Arena Sport Tema - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Katanya Nggak Boleh Minum Es Setelah Lari, Bener N...

Katanya Nggak Boleh Minum Es Setelah Lari, Bener Nggak Sih?

Banyak mitos olahraga bikin pemula ragu mulai. Yuk bedah satu per satu biar latihanmu nggak salah kaprah.

Waktu gue pertama kali mulai jogging, ada aja yang ngasih "nasihat" — mulai dari jangan minum es setelah lari, sampai katanya angkat beban bikin badan pendek. Dulu gue percaya aja. Ternyata setelah baca sana-sini dan ngalamin sendiri, banyak banget yang cuma mitos warisan yang nggak ada dasarnya.

Nah, buat kamu yang baru mau mulai olahraga dan udah keburu takut duluan karena dengar cerita-cerita aneh, artikel ini buat kamu. Kita bongkar beberapa mitos populer yang paling sering bikin pemula mundur.

Baca juga: Badan Lemas Setiap Senin, Ternyata Ini Biang Keroknya

"Minum Es Setelah Olahraga Bikin Sakit Perut"

Ini mitos yang paling sering gue dengar, terutama dari orang tua. Katanya, minum air es setelah berkeringat bisa bikin paru-paru basah atau masuk angin. Faktanya? Tubuh kamu itu punya sistem pengaturan suhu sendiri yang canggih. Setelah olahraga, suhu inti tubuh naik, dan minum air dingin justru bisa membantu menurunkan suhu itu lebih cepat.

Yang bikin sakit perut biasanya bukan esnya, tapi cara minumnya. Kalau kamu ngeguk air es sekaligus banyak dalam keadaan napas masih ngos-ngosan, ya wajar perut jadi nggak nyaman. Solusinya simpel: minum pelan-pelan, teguk kecil-kecil, dan berhenti dulu kalau napas belum stabil.

Jadi bukan esnya yang salah, tapi buru-buru kamu yang bikin masalah.

Beberapa penelitian olahraga malah menunjukkan air dingin bisa mempercepat rehidrasi karena lebih enak diminum, jadi kamu cenderung minum lebih banyak. Kecuali kamu punya kondisi medis tertentu seperti sensitivitas lambung, air es aman-aman aja kok.

"Angkat Beban Bikin Badan Pendek"

Mitos ini kayaknya udah jadi cerita turun-temurun. Banyak yang percaya kalau anak muda angkat beban, pertumbuhannya bakal terhenti. Padahal, sampai sekarang nggak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim itu.

Yang perlu kamu tahu, pertumbuhan tinggi badan ditentukan oleh lempeng pertumbuhan (growth plate) di tulang. Lempeng ini bisa rusak bukan karena beban, tapi karena cedera serius atau faktor genetik dan nutrisi. Latihan beban yang dilakukan dengan teknik benar dan beban yang sesuai justru bagus untuk kekuatan tulang dan otot.

Lalu kenapa mitos ini muncul?

Kemungkinan besar karena dulu banyak orang salah paham soal latihan beban untuk anak-anak. Yang jadi masalah bukan bebannya, tapi teknik yang salah dan beban berlebihan tanpa pengawasan. Kalau kamu pemula, mulai dari beban tubuh sendiri dulu — push-up, squat, plank — sebelum pegang barbel.

"Kalau Nggak Sakit Besoknya, Berarti Nggak Latihan"

Ini nih yang sering bikin pemula kebablasan. Ada anggapan bahwa kalau besoknya badan nggak pegal-pegal, berarti latihan hari ini nggak maksimal. Akibatnya, banyak yang maksa latihan sampai nggak bisa jalan dua hari.

Rasa pegal setelah olahraga namanya DOMS (Delayed Onset Muscle Soreness). Ini muncul karena otot mengalami mikro-kerusakan saat latihan, dan itu normal. Tapi DOMS bukan satu-satunya tanda latihan berhasil. Kamu bisa latihan yang efektif tanpa harus besoknya nggak bisa turun dari kasur.

Yang lebih penting diperhatikan adalah progres. Apakah kamu makin kuat? Apakah jarak lari kamu makin jauh? Apakah kamu makin mudah naik tangga? Itu indikator yang lebih jujur dibanding sekadar pegal-pegal.

  • Istirahat cukup — otot tumbuh saat istirahat, bukan saat latihan
  • Makan protein — bahan bakar buat memperbaiki otot
  • Jangan latihan berat tiap hari — bergantian antara berat dan ringan

"Olahraga Harus Setiap Hari Biar Cepat Kurus"

Gue pernah di fase ini. Setiap hari lari, nggak mau bolong, karena takut gemuk lagi. Hasilnya? Dua minggu kemudian gue cedera lutut dan malah berhenti total sebulan. Pelajaran mahal.

Tubuh kamu butuh waktu pemulihan. Kalau dipaksa terus-terusan, yang terjadi bukan badan makin bagus, tapi risiko cedera dan kelelahan kronis. Pemula yang baru mulai justru disarankan olahraga 3-4 kali seminggu dengan jeda istirahat di antaranya.

Hari istirahat bukan berarti bermalas-malasan. Kamu bisa jalan santai, stretching, atau sekadar tidur cukup. Justru di hari-hari inilah tubuh kamu membangun kembali otot dan energi yang terkuras.

"Berkeringat Banyak = Bakar Lemak Banyak"

Ini juga mitos yang bikin orang bela-belain olahraga pakai jaket tebal biar keringetan deras. Padahal keringat itu cuma cara tubuh mendinginkan diri, bukan ukuran seberapa banyak lemak yang dibakar.

Kamu bisa berkeringat banyak cuma karena duduk di ruangan panas, dan itu nggak membakar lemak sama sekali. Sebaliknya, kamu bisa olahraga di ruangan sejuk, berkeringat sedikit, tapi pembakaran lemaknya lebih besar karena intensitas dan durasinya tepat.

Kalau tujuanmu menurunkan berat badan, fokus ke konsistensi latihan dan pola makan. Bukan ke seberapa basah baju kamu setelah olahraga.

Mulai Aja Dulu, Mitosnya Nanti Ketahuan Sendiri

Pada akhirnya, mitos-mitos ini muncul karena dulu informasinya terbatas dan pengalaman orang berbeda-beda. Sekarang kamu punya akses ke lebih banyak sumber. Jadi jangan biarkan cerita-cerita lama bikin kamu nggak pernah mulai olahraga.

Mulai dari yang kecil. Jalan kaki 20 menit, tiga kali seminggu. Nggak perlu langsung lari 10 kilometer atau angkat beban berat. Yang penting kamu konsisten dan dengerin tubuh sendiri.

Kalau ada yang bilang "jangan ini, jangan itu" tanpa alasan jelas, coba cek dulu faktanya. Tubuh kamu unik, dan yang paling tahu apa yang cocok ya kamu sendiri — tentu dengan bantuan informasi yang benar, bukan mitos warisan.

Tags: mitos olahraga pemula tips lari kebugaran latihan pemula